Warisan Utang Para Presiden Kita

It is pretty amazing

Jual Detik-Detik tahun 2017/2018

Detik-Detik 2017/2018 dengan harga Rp. 55.000,00 bagi siswa kelas enam yang mempersiapkan UN, penambah referensi dalam persiapan USBN

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

Minggu, 18 Februari 2018

Rumah Adat Nusantara

34 Nama Rumah Adat Tradisional di Indonesia

1. Rumah Adat dan Asalnya Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam | Rumah Krong Bade

Rumah adat krong bade merupakan rumah adat provinsi Aceh. Rumah ini juga dikenal dengan sebutan rumoh aceh.
Ciri khas rumah krong bade adalah mempunyai tangga didepan rumah yang digunakan sebagai jalan masuk kedalam rumah. Pada umumnya rumah ini mempunyai jumlah anak tangga yang ganjil.
Rumah adat krong bade mempunyai bentuk persegi panjang dan dibuat memanjang dari arah timur ke barat. Dinding rumah terbuat dari kayu dan dihiasi dengan lukisan. Atap rumah adat krong bade terbuat dari daun rumbia serta lantainya terbuat dari bambu atau enau.

2. Rumah Adat Provinsi Sumatera Utara | Rumah Bolon

Rumah adat bolon merupakan rumah adat provinsi Sumatera Utara. Rumah bolon terbagi menjadi beberapa jenis, antara lain rumah Bolon Simalungun, rumah Bolon Toba, rumah Bolon Karo, rumah Bolon Mandailing, rumah Bolon Angkola dan rumah Bolon Pakpak.
Ciri khas rumah bolon adalah bentuknya panggung yang terdiri dari beberapa tiang bergaris tengah yang menjadi penyanggahnya. Dinding rumah bolon dihiasi dengan ornamen khas Simalungun yang berwarna merah, putih, dan hitam. Ornamen ini menggambarkan pendangan kosmologis dan filosofi budaya suku Batak.

3. Rumah Adat Provinsi Sumatera Barat | Rumah Gadang


Rumah adat gadang merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Sumatera Barat. Nama lain dari rumah adat gadang adalah rumah bagonjong, rumah baanjuang, dan rumah godang.
Ciri khas rumah gadang adalah mempunyai keunikan dalam bentuk arsitekturnya dengan atap yang menyerupai tanduk kerbau yang terbuat dari bahan ijuk.
Rumah ini berfungsi sebagai tempat kediaman keluarga, tempat merawat anggota keluarga yang sakit, tempat melakasanakan upacara, dan sebagai lambang kehadiran suatu kaum.

 

4. Rumah Adat Provinsi Riau | Rumah Melayu Selaso

Rumah adat melayu selaso merupakan rumah adat yang berasa dari provinsi Riau.
Ciri khas rumah adat ini adalah memiliki kolong atau yang biasa kita sebut dengan rumah panggung. Terdiri dari beberapa tiang dengan bentuk bangunan persegi panjang. Selain itu rumah adat selaso jatuh kembar mempunyai ukiran melayu seperti lebah bergayut, selembayung, pucuk rebung dan lain-lain.
Selaso jatuh kembar sendiri mempunyai makna rumah yang memiliki dua selaso yang artinya lantai rumah lebih rendah dari pada ruang tengah.

5. Rumah Adat Provinsi Kepulauan Riau | Rumah Selaso Jatuh Kembar

Rumah adat melayu selaso jatuh kembar merupakan rumah adat yang berasa dari provinsi Kepulauan Riau.
Ciri khas rumah adat ini adalah memiliki kolong atau yang biasa kita sebut dengan rumah panggung. Terdiri dari beberapa tiang dengan bentuk bangunan persegi panjang. Selain itu rumah adat selaso jatuh kembar mempunyai ukiran melayu seperti lebah bergayut, selembayung, pucuk rebung dan lain-lain.
Selaso jatuh kembar sendiri mempunyai makna rumah yang memiliki dua selaso yang artinya lantai rumah lebih rendah dari pada ruang tengah.

 

6. Rumah Adat Provinsi Jambi | Rumah Panjang

Rumah adat panjang merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Jambi.
Ciri khas rumah adat ini adalah bentuknya yang panjang. Selain itu rumah adat ini memiliki corak yang sangat khas. Di Jambi, rumah adat ini hampir punah. Banyak masyarakat yang lebih memilih rumah modern dari pada rumah panjang ini.

 

7. Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan | Rumah Limas

Rumah adat limas merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Sumatera Selatan.
Ciri khas rumah adat ini adalah atapnya yang berbentuk limas. Selain itu, rumah limas juga mempunyai lantai yang bertingkat-tingkat yang disebut sebagai Bengkilas dan hanya digunakan untuk acara-acara penting keluarga saja.

8. Rumah Adat Provinsi Bangka Belitung | Rumah Rakit, Rumah Limas


Rumah rakit merupakan rumah adat yang berasal dari Bangka Belitung. Rumah rakit ini juga sangat populer di Kota Palembang.
Ciri khas rumah rakit ini adalah dibangun diatas sungai dan mirip seperti rakit. Dibangun diatas sungai karena dahulu sungai dianggap sebagai sumber mata pencaharian dan sumber makanan bagi masyarakat.

 

9. Rumah Adat Provinsi Bengkulu | Rumah Bubungan Lima

Rumah adat bubungan lima merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Bengkulu.
Ciri khas rumah ini mempunyai model seperti rumah panggung yang ditopang oleh beberapa tiang penopang. Kayu yang digunakan untuk membangun rumah ini juga tidak sembarangan. Kayu yang digunakan adalah Kayu Medang Kemuning.

 

10. Rumah Adat Provinsi Lampung | Rumah Nowou Sesat

Rumah adat nowou sesat merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Lampung.
Ciri khas rumah adat ini adalah bentuknya seperti panggung dan terdapat ornamen yang khas pada bagian sisi bangunan. Pada umumnya rumah adat ini memiliki ukuran yang sangat besar, tapi pada zaman sekarang ukuran rumah adat ini dibuat tidak terlalu besar.

11. Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta | Rumah Kebaya
Rumah adat kebaya merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi DKI Jakarta.
Ciri khas rumah adat ini adalah atapnya yang menyerupai pelana yang dilipat dan apabila di lihat dari samping maka akan terlihat seperti lipatan-lipatan seperti lipatan kebaya. Selain itu rumah ini juga memiliki corak ornamen khas suku betawi.

 

12. Rumah Adat Provinsi Jawa Barat | Rumah Kasepuhan Cirebon

Rumah adat Kasepuhan Cirebon merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Jawa Barat. Rumah ini juga merupakan bagian dari keraton Cirebon. Walaupun usia bangunan ini sudah sangat tua, akan tetapi bangunan ini masih tetap terawat sampai sekarang.

 

13. Rumah Adat Provinsi Banten | Rumah Badui

Rumah Badui merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Banten.
Ciri khas rumah badui adalah bentuknya yang menyerupai panggung dan hampir seluruh bagian rumah terbuat dari bahan bambu. Rumah adat ini juga terkenal dengan kesederhanaan.

 

14. Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah | Rumah Joglo

Rumah adat joglo merupakan rumah adat masyarakat Jawa. Rumah adat ini terdiri dari beberapa ruangan di dalamnya. Di depan rumah terdapat pendopo yang berfungsi sebagai ruang tamu.
Ciri khas rumah adat ini adalah mempunyai corak ornamen budaya suku Jawa yang terletak pada bagian-bagian sisi rumahnya.

 

15. Rumah Adat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta | Rumah Bangsal Kencono, Rumah Joglo


Rumah bangsal kencono merupakan rumah adat yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada zaman dulu rumah adat ini digunakan sebagai tempat tinggal raja-raja jawa dan para pejabat kerajaan.
Ciri khas rumah adat ini adalah mempunyai corak ornamen yang mengandung filosofi dan nilai-nilai kehidupan yang merupakan lambang dari pola perilaku manusia, alam semesta dan kehidupan.

 

16. Rumah Adat Provinsi Jawa Timur | Rumah Joglo Situbondo

Rumah adat joglo jawa timuran merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Jawa Timur. Rumah adat ini mempunyai kemiripan dengan rumah adat joglo Jawa Tengah.
Ciri khas rumah adat ini adalah bentuknya lebih minimalis tetapi artistik. Selain itu rumah adat ini mempunyai filosofi dan sanepan yang terkandung didalam rumah adat ini. Sehingga rumah adat ini kental akan kebudayaan leluhur terdahulu.

 

17. Rumah Adat Provinsi Bali | Rumah Gapura Candi Bentar

Rumah adat gapura candi bentar merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Bali.
Ciri khas rumah adat ini adalah bentuknya menyerupai pura dan memiliki gapura di bagian depan rumah. Rumah adat di Bali sangat kental dengan budaya dan agamanya. Berbeda dengan rumah adat yang lainnya di Indonesia. Rumah adat ini masih sangat mudah untuk ditemukan. Itu artinya masyarakat di Bali sangat menjaga harta kebudayaan yang mereka miliki.

 

18. Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Barat | Rumah Istana Sultan Sumbawa

Rumah adat dalam loka merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Nusa Tenggara Barat. Rumah adat ini dibangun oleh suku-suku asli daerah Nusa Tenggara Barat. Diantaranya adalah Suku Sumbawa, Suku Sasak, Suku Dongu, Suku, Dompu.
Pada zaman dahulu rumah adat ini digunakan sebagai istana raja dan ketua adat. Akan tetapi seiring perkembangan zaman, rumah adat ini digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat Nusa Tenggara Barat.

19. Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Timur | Rumah Musalaki

Rumah adat musalaki merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Nusa Tenggara Timur. Rumah adat musalaki mempunyai kemiripan dengan rumah adat daerah tetangganya, yaitu Nusa Tenggara Barat.
Ciri khas dari rumah adat ini adalah bentuk dan arsitekturnya menyerupai kerucut. Pada zaman dahulu rumah ini digunakan sebagai tempat tinggal kepala suku dan pembesar adat saja. Akan tetapi seiring perkembangan zaman, rumah adat ini digunakan untuk tempat tinggal masyarakat Nusa Tenggara Timur.

 

20. Rumah Adat Provinsi Kalimantan Barat | Rumah Istana Kesultanan Pontianak

Rumah adat istana kesultanan pontianak merupakan rumah adat yang berasal dari daerah Kalimantan Barat. Rumah ini memiliki ukuran yang cukup besar.
Ciri khas rumah adat ini adalah mempunyai corak dan arsitektur Suku Dayak yang terdapat pada bagian-bagian sisi rumah.

21. Rumah Adat Provinsi Kalimantan Tengah | Rumah Betang

Rumah adat betang adalah rumah adat yang berasal dari provinsi Kalimantan Tengah. Rumah ini secara garus besar mempunyai kemiripan dengan rumah panjang.
Ciri khas rumah adat ini adalah mempunyai ukuran yang sangat besar dan merupakan rumah adat terbesar kedua di Indonesia. Rumah adat ini mampu menampung 150 orang atau 30-35 keluarga.

22. Rumah Adat Provinsi Kalimantan Selatan | Rumah Banjar Bubungan Tinggi

Rumah adat bubungan tinggi merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Kalimantan Selatan. Rumah ini dibangun oleh suku Dayak Selatan yang merupakan suku asli Kalimantan.
Ciri khas rumah adat ini adalah mempunyai struktur bangunan yang tinggi dan kokoh. Rumah adat bubungan tinggi ini lebih mengutamakan kekokohan bangunan daripada daya tampung bangunannya.

 

23. Rumah Adat Provinsi Kalimantan Timur | Rumah Lamin

Rumah adat lamin merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Kalimantan Timur. Rumah adat ini dibangun oleh suku asli Kalimantan, yaitu Suku Daya Timur.
Ciri khas rumah adat ini adalah mempunyai corak ornamen Suku Dayak Timur yang terdapat pada bagian-bagian sisi rumah. Rumah lamin ini juga merupakan rumah adat terbesar di Indonesia.

 

24. Rumah Adat Provinsi Kalimantan Utara | Rumah Baloy

Rumah adat baloy merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Kalimantan Utara. Rumah adat baloy terinspirasi dari rumah adat suk tidung yang juga berada di Kalimantan Utara.
Ciri khas rumah adat ini adalah mempunyai arsitektur bangunan yang lebih indah daripada rumat adat lainnya yang ada di Kalimantan. Sehingga rumah adat baloy dijadikan sebagai maskot daerah sekaligus sebagai media menarik wisatawan.

 

25. Rumah Adat Provinsi Sulawesi Utara | Rumah Pewaris

Rumah adat pewaris adalah rumah adat yang berasal dari provinsi Sulawesi Utara. Rumah adat ini dibangun oleh suku asli Sulawesi Utara, yaitu Suku Minahasa.
Ciri khas rumah ini adalah mempunyai bentuk seperti rumah panggung dan memiliki dua tangga pada bagian depan rumahnya. Hampir seluruh bagian rumah ini terbuat dari bahan dasar kayu. Kayu yang digunakan pun bukanlah jenis kayu yang sembarangan.

 

26. Rumah Adat Provinsi Sulawesi Barat | Rumah Mandar

Rumah adat mandar merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Sulawesi Barat. Rumah adat ini mempunyai arsitektur bangunan yang mirip dengan bangunan suku bugis dan suku toraja.
Ciri khas rumah adat ini adalah memiliki teras yang luas dan mempunyai anak tangga yang jumlahnya ganjil. Selain itu sebagian besar struktur material bangunan berasal dari alam.

 

27. Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tengah | Rumah Tambi

Rumah adat tambi merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Sulawesi Tengah.
Ciri khas rumah ini adalah mempunyai bentuk persegi panjang dengan arsitektur rumah panggung. Bahan dasar dalam pembuatan rumah ini menggunakan kayu asli dan juga batu alam. Semakin tinggi dan besar rumah ini maka status sosial sang pemilik semakin tinggi.

 

28. Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tenggara | Rumah Buton Malige

Rumah adat buton malige merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Sulawesi Tenggara.
Ciri khas rumah adat ini adalah mempunyai karakteristik arsitektur yang unik. Rumah adat ini dibangun dengan empat lantai dengan teknik kontruksi kayu kait tanpa pasak dan paku.

 

29. Rumah Adat Provinsi Sulawesi Selatan | Rumah Tongkonan

Rumah adat tongkonan merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Sumatera Selatan.
Ciri khas rumah adat ini adalah mempunyai bentuk yang unik pada atapnya. Atap rumah ini berbentuk seperti perahu. Selain itu terdapat hiasan tanduk kerbau di bagian depan rumahnya.

 

30. Rumah Adat Provinsi Gorontalo | Rumah Dulohupa, Rumah Pewaris

Rumah adat dolohupa merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Gorontalo.
Ciri khas rumah adat ini adalah mempunyai atap yang sangat berseni dengan struktur bangunan menyerupai rumah panggung. Sebagian besar bahan dasar bangunan ini adalah menggunakan kayu asli.

 

31. Rumah Adat Provinsi Maluku | Rumah Baileo

Rumah adat baileo merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Maluku. Rumah adat ini melambangkan kejamukan agama di Maluku.
Ciri khas rumah adat ini adalah ukurannya yang besar sebab rumah adat ini tidak dipakai sebagai tempat tinggal saja melainkan untuk musyawarah dan acara hiburan. Uniknya didalam salah satu ruangan rumah adat ini terdapat ruangan khusus untuk menyimpan benda-benda pusaka suci.

 

32. Rumah Adat Provinsi Maluku Utara | Rumah Baileo

Rumah adat baileo merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Maluku. Rumah adat ini melambangkan kejamukan agama di Maluku.
Ciri khas rumah adat ini adalah ukurannya yang besar sebab rumah adat ini tidak dipakai sebagai tempat tinggal saja melainkan untuk musyawarah dan acara hiburan. Uniknya didalam salah satu ruangan rumah adat ini terdapat ruangan khusus untuk menyimpan benda-benda pusaka suci.

 

33. Rumah Adat Provinsi Papua Barat | Rumah Honai

Rumah adat honai merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Papua. Rumah ini terbuat dari kayu dan ilalang.
Ciri khas rumah adat ini adalah berukuran minimalis dan sempit. Rumah ini juga tidak memiliki jendela dengan tujuan agar rumah tetap hangat mesti suhu diluar sangat dingin. Ini dikarenakan masyarakat Papua banyak yang tinggal di daerah pegunungan.

34. Rumah Adat Provinsi Papua | Rumah Honai

Rumah adat honai merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Papua. Rumah ini terbuat dari kayu dan ilalang.
Ciri khas rumah adat ini adalah berukuran minimalis dan sempit. Rumah ini juga tidak memiliki jendela dengan tujuan agar rumah tetap hangat mesti suhu diluar sangat dingin. Ini dikarenakan masyarakat Papua banyak yang tinggal di daerah pegunungan.


Share:

Rabu, 14 Februari 2018

Pikirkan dan Syukurilah!

Artinya, ingatlah setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada Anda. Karena Dia telah melipatkan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga ke bawah kedua telapak kaki. {Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya.} (QS. Ibrahim: 34) Kesehatan badan, keamanan negara, sandang pangan, udara dan air, semuanya tersedia dalam hidup kita. Namun begitulah, Anda memiliki dunia, tetapi tidak pernah menyadarinya. Anda menguasai kehidupan, tetapi tak pernah mengetahuinya. {Dan, Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin.} (QS. Luqman: 20) Anda memiliki dua mata, satu lidah, dua bibir, dua tangan dan dua kaki. {Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?} (QS. Ar-Rahman: 13) Apakah Anda mengira bahwa, berjalan dengan kedua kaki itu sesuatu yang sepele, sedang kaki acapkali menjadi bengkak bila digunakan jalan terus menerus tiada henti? Apakah Anda mengira bahwa berdiri tegak di atas kedua betis itu sesuatu yang mudah, sedang keduanya bisa saja tidak kuat dan suatu ketika patah? Maka sadarilah, betapa hinanya diri kita manakala tertidur lelap, ketika sanak saudara di sekitar Anda masih banyak yang tidak bisa tidur karena sakit yang mengganggunya? Pernahkah Anda merasa nista manakala dapat menyantap makanan lezat dan minuman dingin saat masih banyak orang di sekitar Anda yang tidak bisa makan dan minum karena sakit? Coba pikirkan, betapa besarnya fungsi pendengaran, yang dengannya Allah menjauhkan Anda dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata Anda yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit Anda yang terbebas dari penyakit lepra dan supak. Dan renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak Anda yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan. Adakah Anda ingin menukar mata Anda dengan emas sebesar gunung Uhud, atau menjual pendengaran Anda seharga perak satu bukit? Apakah Anda mau membeli istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah Anda, hingga Anda bisu? Maukah Anda menukar kedua tangan Anda dengan untaian mutiara, sementara tangan Anda buntung? Begitulah, sebenarnya Anda berada dalam kenikmatan tiada tara dan kesempumaan tubuh, tetapi Anda tidak menyadarinya. Anda tetap merasa resah, suntuk, sedih, dan gelisash, meskipun Anda masih mempunyai nasi hangat untuk disantap, air segar untuk diteguk, waktu yang tenang untuk tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat. Anda acapkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga Anda pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jiwa Anda mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera. Padahal, sesungguhnya Anda masih memegang kunci kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar kebahagian, karunia, kenikmatan, dan lain sebagainya. Maka pikirkan semua itu, dan kemudian syukurilah! {Dan, pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan.} (QS. Adz-Dzariyat: 21) Pikirkan dan renungkan apa yang ada pada diri, keluarga, rumah, pekerjaan, kesehatan, dan apa saja yang tersedia di sekeliling Anda. Dan janganlah termasuk golongan {Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya.} (QS. An-Nahl: 83) La Tahzan
Share:

Senin, 05 Februari 2018

Bacaan Shalat dan Artinya

Bacaan shalat

Membaca takbiratul ihram
لله اكبر
Allaahu akbar.
Artinya:
Allah Maha Besar.

Membaca Doa iftitah

وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا (مُسْلِمًا) وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Allaahu Akbaru kabiiraw-walhamdu lillaahi katsiiran, wa subhaanallaahi
bukrataw-wa’ashiila. Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawaati
wal ardha haniifam-muslimaw-wamaa anaa minalmusyrikiina. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi Rabbil ‘aalamiina. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa anaa minal muslimiina.

Artinya :
Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya. Segala puji yang sebanyak-banyaknya bagi Allah. Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari. Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan dan kepasrahan diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam, yang tiada satu pun sekutu bagi-Nya. Dengan semua itulah aku diperintahkan dan aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim)

Membaca Surat Al Fatihah
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣  مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ٤ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧

1. "Bismillahirrahmanirrahim"
2. Alhamdulillahi rabbil alamin,
3. Arrahmaanirrahiim
4. Maaliki yaumiddiin,
5. Iyyaka nabudu waiyyaaka nastaiin,
6. Ihdinashirratal mustaqim,
7. shiratalladzina an’amta alaihim ghairil maghduubi alaihim waladhaalin,
Artinya:
1. "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".
2. "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam".
3. "Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".
4. "Yang menguasai di Hari Pembalasan".
5. "Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan".
6. "Tunjukilah kami jalan yang lurus",
7. "(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula  jalan) mereka yang sesat".

Setelah membaca surat Al Fatihah, kita membaca surat-surat pendek
atau surat lainnya dalam Al Quran. Sahabat tinggal pilih saja sendiri
suratnya dalam Al Quran

Kemudian Ruku, lalu membaca Bacaan Doa ruku.
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
Subhaana rabbiyal 'azhiimi wabihamdih
Artinya
Maha Suci Tuhan Yang Maha Besar lagi Maha Terpuji.

Kemudia I'tidal dan membaca Bacaan Doa i'tidal.
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ 
SAMI'ALLOOHU LIMAN HAMIDAH

 Artinya :
Allah mendengar orang yang memuji-Nya

Pada waktu berdiri tegak (I’tidal) seraya membaca : 
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّموَاتِ وَمِلْءُ اْلاَرْضِ وَمِلْءُمَاشِئْتَ مِنْ شَيْئٍ بَعْدُ 
RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL'UL ARDHI WA MIL 'UMAASYI'TA MIN SYAI'IN BA'DU.

 Artinya :
Wahai Tuhan Kami ! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya.

Kemudian Sujud dan Membaca Bacaan Doa sujud.

سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلاَعْلَى وَبِحَمْدِهِ 
SUBHAANA RABBIYAL A'LAA WABIHAMDIH (Dibaca 3 x)

 Artinya :
Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan Memuji-Nya


Bacaan Duduk Diantara Dua Sujud dalam Sholat
رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْفَعْنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِيْ وَاعْفُ عَنِّيْ 
ROBBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA'NII WARZUQNII WAHGDINII WA'AAFINII WA'FU 'ANNII

 Artinya :
Ya Allah,ampunilah dosaku,belas kasihinilah aku dan cukuplah segala kekuranganku da angkatlah derajatku dan berilah rezeki kepadaku,dan berilah aku petunjuk dan berilah kesehatan padaku dan berilah ampunan kepadaku
Kemudian tasyahud awal dan Membaca membaca
Bacaan tasyahud awal
اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِاللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ اَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهُ، اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى  مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ  مُحَمَّدٍ،

ATTAHIYYAATUL MUBAAROKAATUSH SHOLAWAATUT TOYYIBAATULILLAAH ASSALAAMU'ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WAROHMATULLOOHI WABAROKAATUHU ASSALAAMU'ALAINAA WA 'ALAA 'IBAADIL-LAAHISH-SHOOLIHIINA. ASYHADU ANLAA ILAAHA IL-LALLOOH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR ROSUULULLAAH. ALLOOHUMMA SHOLLI 'ALAA  MUHAMMADIN WA 'ALAA AALI  MUHAMMADIN
 Artinya :
Segala penghormatan yang berkat solat yang baik adalah untuk Allah. Sejahtera atas engkau wahai Nabi dan rahmat Allah serta keberkatannya. Sejahtera ke atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang soleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah pesuruh Allah. Ya Tuhan kami, selawatkanlah ke atas Nabi Muhammad dan ke atas keluarganya.

Begitu seterusnya, ketika sudah sampai pada tasyahud akhir maka kita
membaca Bacaan tasyahud akhir dan doanya berikut ini
اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِاللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ اَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهُ، اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى  مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ  مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى  اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ  اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ  مُحَمَّدٍ كَمَا بَرَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ  اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

ATTAHIYYAATUL MUBAAROKAATUSH SHOLAWAATUT TOYYIBAATULILLAAH ASSALAAMU'ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WAROHMATULLOOHI WABAROKAATUHU ASSALAAMU'ALAINAA WA 'ALAA 'IBAADIL-LAAHISH-SHOOLIHIINA. ASYHADU ANLAA ILAAHA IL-LALLOOH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR ROSUULULLAAH. ALLOOHUMMA SHOLLI 'ALAA  MUHAMMADIN WA 'ALAA AALI  MUHAMMADIN. KAMAA SHOL-LAITA 'ALAA  IBROOHIIMA WA 'ALAA AALI  IBROOHIIMA WABAARIK 'ALAA  MUHAMMADIN WA 'ALAA AALI  MUHAMMADIN KAMAA BAAROKTA 'ALAA  IBROOHIIMA WA 'ALAA AALI  IBROOHIIMA FIL 'AALAMIINA INNAKA HAMIIDUN MAJIIDUN
 Artinya :

Segala penghormatan yang berkat solat yang baik adalah untuk Allah. Sejahtera atas engkau wahai Nabi dan rahmat Allah serta keberkatannya. Sejahtera ke atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang soleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah pesuruh Allah. Ya Tuhan kami, selawatkanlah ke atas Nabi Muhammad dan ke atas keluarganya. Sebagaimana Engkau selawatkan ke atas Ibrahim dan atas keluarga Ibrahim. Berkatilah ke atas Muhammad dan atas keluarganya sebagaimana Engkau berkati ke atas Ibrahim dan atas keluarga Ibrahim di dalam alam ini. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.


Share:

Rabu, 31 Januari 2018

Petunjuk Sepanjang Jalan;Syed Qutb

LA ILAAHA ILLALLAH PANDUAN HIDUP

Pengabdian diri kepada Allah SWT adalah merupakan akar tunjang dan rukun pertama dalam akidah Islamiyah yang dijelmakan di dalam pengakuan: Tiada Tuhan Melainkan Allah (LAA ILAAHA ILLALLAH). Manakala menerima pengajaran dari Rasulullah SAW mengenai cara menjalan dan melaksanakan pengabdian itu adalah merupakan bahagian yang kedua daripadanya, yang dijelmakan di dalam pengakuan: Muhammad itu ialah Utusan Allah (MUHAMMADUR-RASULULLAH).

Hati Muslim yang beriman dan menyerahkan dirinya kepada Allah itu adalah hati yang menjelma di dalamnya kedua-dua dasar yang disebutkan di atas tadi. Semua perkara selain daripada kedua-duanya baik yang berbentuk asas-asas keimanan dan rukun Islam, adalah merupakan pelengkap bagi kedua-dua tadi; kerana keimanan kepada malaikat-malaikat Allah, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, hari kiamat, qada dan qadar, juga sembahyang, zakat, puasa dan haji, hukum halal dan haram, kemudian hukum hudud dan ta'zir, serta peraturan-peraturan mengenai muamalah, perundangan dan arahan-arahan keIslaman semuanya itu adalah tegak di atas dasar pengabdian diri kepada Allah SWT. Begitu juga sumber-sumber itu semuanya adalah ajaran-ajaran yang telah disampaikan kepada kita oleh Rasulullah SAW daripada Tuhannya.

Dan masyarakat Islam itu ialah masyarakat yang menghayati sepenuhnya kaedah-kaedah Islam dan hal-hal yang berkaitan dengannya di dalam kenyataan hidupnya; sebab masyarakat tanpa pelaksanaan dan peryelmaan kaedah-kaedah ini tidak boleh dipandang sebagai MASYARAKAT ISLAM.

Selanjutnya pengakuan bahawa tiada Tuhan melainkan Allah (LA ILAAHA ILLALLAH) dan Muhammad itu ialah utusan Allah (MUHAMMADUR RASULULLAH) adalah kaedah bagi suatu program yang lengkap yang menjadi tapak kepada kehidupan umat Islam seluruhnya. Kehidupan secara Islam ini tidak akan dapat ditegakkan sebelum kaedah ini ditegakkan terlebih dahulu; seperti juga kehidupan secara Islam tidak akan menjadi kehidupan secara Islam dengan sebenarnya sekiranya ia ditegakkan di atas kaedah yang lain daripada kaedah ini atau pun ia ditegakkan secara tempelan di samping kaedah-kaedah yang lain atau pun di samping beberapa kaedah lain yang asing darinya.
Firman Allah:

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِّلهِ َأمَرَ َألاَّ تَعْبُدُوْا إِلاَّ إِيَّاهُ َذلِكَ الدِّينُ الَْقيِّمُ
Maksudnya: Tidak ada kekuasaan memerintah itu melainkan kepunyaan Allah sahaja. Ia perintah supaya kamu jangan sembah dan mengabdikan diri melainkan Dia, kerana yang demikian itu ialah agama yang lurus.
(Yusoff: 40)
Firman Allah:
مَّنْ يُطِعِ الرَّسُو َ ل َفَقدْ َأطَاعَ الّلهَ
Maksudnya: “Sesiapa yang taat dan patuhkan Rasul, maka sesungguhnya dia telah taat dan patuhkan Allah. “
(An-Nisaa: 80)
Pengakuan yang ringkas dan mutlak itu memberikan panduan kepada kita untuk membuat kata pemutus mengenai beberapa persoalan pokok mengenai hakikat agama ini dan mengenai gerakannya di dalam kenyataan. 

Pengakuan ini memberi panduan kepada kita dalam membuat garis pemisah mengenai:
Pertama : Bentuk dan tabiat masyarakat Islam.
Kedua : Program pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Islam.
Ketiga : Program Islam dalam menghadapi masyarakat-masyarakat jahiliyah.
Keempat : Program Islam dalam menghadapi kenyataan hidup umat manusia seluruhnya. yang semuanya ini merupakan masalah pokok dalam program gerakan Islam, dulu dan sekarang

Sesungguhnya ciri pertama yang menentukan bentuk dan tabiat “Masyarakat Islam” itu ialah bahawasanya masyarakat itu berdiri dan tegak di atas asas mengabdikan diri kepada Allah SWT di dalam semua urusannya. Mengabdikan diri yang dijelma dan dibentuk oleh pengakuan dan ikrar bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawa Muhamad itu ialah utusan Allah (LAA ILAAHA
ILLALLAH, MUHAMMADUR RASULUL LAH).

Pengabdian diri itu hendaklah terjelma di dalam bentuk kepercayaan seperti juga di dalam semua syiar-syiar dan simbol-simbol peribadatan, seperti mana juga ianya menjelma d dalam peraturan-peraturan dan undang-undang. Sebab bukanlah menjadi hamba Allah SWT seorang yang tidak meyakini keesaan dan ketunggalan

Allah SWT. Firman Allah:
وَقَا َ ل اللّهُ َ لا تَتَّخِ ُ ذوْا إَِ لهيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلهٌ وَاحِدٌ َفإيَّايَ َفارْهَبُونِ ( 51 ) وََلهُ مَا فِي
( الْسَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وََلهُ الدِّينُ وَاصِبًا َأَفغَيْرَ الّلهِ تَتَُّقو َ ن ( 52

Maksudnya: “Dan Allah berkata: Janganlah kamu adakan dua Tuhan, kerana sesungguhnya Tuhan itu Esa, dan kepadaKulah hendaknya kamu ta.kut. Dan bagi-Nyalah apa yang ada di langit dan di bumi, dan bagi-Nyalah ketaatan dergan tetap, apakah kepada yang selain dari Allah kamu mahu berbakti?”
(An Nahl: 51-52) 

Dan bukanlah hamba Allah SWT orang yang mempersembahkan atau pun melakukan syiar dan lambang pengabdian kepada yang lain daripada Allah, sama ada bersama-sama dengan Allah atau pun secara bersendirian dan tidak bersamasama dengan Allah.

Firman Allah SWT:
ُق ْ ل إِنَّ صَ َ لاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِّلهِ رَبِّ الْعَاَلمِينَ ( 162 ) َ لا شَرِيكَ َلهُ وَبِ َ ذلِكَ
( أُمِرْتُ وََأنَاْ َأوَّ ُ ل الْمُسْلِمِينَ ( 163

Maksudnya: “Katakanlah sesungguhnya sembahyangku dan ibadatku, hidup dan matiku adalah kerana Allah Tuhan seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagiNya, dan begitulah aku diperintah dan adalah aku orang Islam yang pertama.” (Al-An’am: 162-163)

Dan bukanlah hamba Allah SWT orang yang menerima peraturan dan undang-undang dari yang lain daripada Allah SWT. Melainkan melalui jalan yang Allah telah sampaikan kepada kita, iaitu jalan Rasulullah SAW.

Firman Allah :
َأمْ َلهُمْ شُرَ َ كاء شَرَعُوا َلهُم مِّنَ الدِّينِ مَا َلمْ يَْأَذن بِهِ اللَّهُ

Maksudnya : “Atau adakah bagi mereka sekutu-sekutu yang mengatur untuk mereka sebagai agama, sesuatu yang Allah tak izinkan.” 

dan firman Allah SWT lagi :
وَمَا آتَا ُ كمُ الرَّسُو ُ ل فَخُذُوهُ وَمَا نَهَا ُ كمْ عَنْهُ َفانتَهُوا

Maksudnya : “Dan apa-apa yang diberi oleh Rasul kepada kamu, maka ambillah, dan apa-apa yang ia larang kami, maka jauhilah.” (al-Hasyr : 7)

Inilah dia masyarakat Islam, masyarakat yang menjelma di dalamnya pengabdian diri kepada Allah SWT di dalam kepercayaan anggota-anggotanya dan juga di dalam konsep dan gambaran fikiran mereka, seperti juga ia menjelma di dalam lambang-lambang hidup dan peribadatan mereka dan malah ia menjelma di dalam sistem dan peraturan kemasyarakatan mereka, dan peraturan serta undangundang mereka. Bila mana sahaja sesuatu faktor dari faktor-faktor yang disebutkan di atas tadi menyimpang dan tidak menjelma di alam kenyataan, maka dengan itu bererti bahawa Islam itu sendri pun sudah menyimpang dan tidak menjelma lagi, kerana menyimpang dan tidak menjelmanya rukun Islam yang Pertama, iaitu pengakuan bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawa Muhammad itu adalah utusan Allah (LA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH).

Dan telah pun kita katakan: bahawa pengabdian diri kepada Allah itu menjelma di dalam konsep dan gambaran kepercayaan, maka eloklah kita perkatakan apakah dia konsep dan gambaran kepercayaan cara Islam itu iaitu gambaran yang terjadi di dalam pemikiran manusia sebagai hasil dari  penerimaannya akan akidah itu dari sumbernya yang sejati, iaitu sumber ILAHI; dan yang dengannya manusia itu dapat mengerti dan memahami apakah dia hakikat Tuhannya, dan hakikat alam yang dia hidup di dalamnya, baik yang nampak dilihat atau pun yang tak nampak dan hakikat dirinya dan hakikat zat manusia itu sendiri, yang ia rasakan itu, baik yang nampak atau yang tak nampak; dan di samping segala sesuatu ialah hakikat dirinya sendiri, iaitu hakikat manusia itu sendiri, kemudian ia sesuaikan semuanya di atas itu dengan perhubungannya dengan hakikat ini; perhubungannya dengan Tuhannya yang menjelmakan pengabdian dirinya kepada Allah SWT dan perhubungannya dengan alam semesta dan peraturan seluruh benda yang hidup di dunia ini, serta setiap peribadi umat manusia, perhubungan yang mengambil sumber (atau yang bersumber) dari agama Allah, seperti yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Dengan demikian dia melaksanakan pengabdian diri kepada Allah SWT dalam bentuk yang meliputi seluruh sendi kehidupannya.

Maka kalaulah telah menjadi ketetapan bahawa inilah dia “Masyarakat Islam” itu, maka bagaimanakah pula masyarakat itu boleh tumbuh dan bagaimanakah pula program pertumbuhannya?
Sesungguhnya masyarakat itu tidak akan dapat tegak kecuali bila timbul satu perkumpulan (jamaah) manusia yang mengakui pengabdian diri mereka sepenuhnya kepada Allah SWT, dan bahawa mereka tidak tunduk dan merendahkan diri mereka ke peringkat yang sejajar dengan pengabdian itu kepada sesuatu apa pun yang lain daripada Allah SWT di dalam perkara iktikad, gambaran hidup dan lambang-lambang keagamaan, tidak tunduk dan merendahkan diri kepada yang lain daripada Allah di dalam urusan peraturan hidup dan perundangan kemudian mereka bertindak untuk menyusun hidup mereka dengan dasar dan asas pengabdian diri dan ketundukan yang sejati, dengan cara membersihkan hati dan nadi mereka dari sebarang keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan yang lain daripada Allah SWT, baik bersama-sama dengan Allah sebagai rakan sekutunya mahupun bersendirian sebagai lawan Allah; di samping membersihkan segala lambangnya daripada bertumpu kepada yang lain daripada Allah serta membersih dan membebaskan peraturan dan undang-undang hidup mereka daripada sebarang sumber pengambilan yang lain daripada Allah.

Di ketika itulah, ya, di ketika itulah sahaja, perkumpulan atau jamaah itu menjadi perkumpulan Islam dan masyarakat yang mereka bentuk itu baru sah menjadi masyarakat Islam (Muslim). Ada pun sebelum satu kelompok manusia mengaku akan kebersihan dan keikhlasan pengabdian diri mereka kepada Allah semata-mata, mengikut cara yang telah disebutkan tadi, maka ketika itu mereka masih belum lagi menjadi orang-orang Islam, dan sebelum mereka mengatur perkumpulan mereka di atas dasar itu maka perkumpulan mereka pun bukanlah suatu perkumpulan Islam ini ialah kerana kaedah dan dasar pertama yang menjadi landasan Islam itu ialah pengakuan bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawa Muhammad itu utusan Allah (LA ILAAHA ILLALIAH MUHAMMADUR RASULULLAH) dari kedua-dua seginya.

Dengan demikian, maka sebelum daripada difikirkan soal mewujudkan sistem masyarakat Islam, dan sebelum daripada mewujudkan masyarakat Islam di atas landasan sistem itu perlu dan sayugialah dititik beratkan dahulu kepada kebersihan setiap hati nurani si Muslim itu dari mengabdikan diri kepada yang lain daripada Allah, dalam sebarang bentuk dan rupa yang telah kita kemukakan tadi, dan hendaklah individu yang hati nuraninya itu bersih dan dan suci dari sebarang pengabdian diri kepada yang lain daripada Allah itu berkumpul dalam suatu Jamaah Islamiyah dan Jemaah yang hati nurani anggota-anggotanya suci bersih dari pengabdian diri kepada yang lain daripada Allah di segi iktikad, ibadat dan perundangan, dari merekalah akan dapat tumbuh masyarakat Islam, dan akan disertai oleh setiap orang yang mahu hidup di dalam masyarakat itu dengan akidahnya sendiri ibadatnya sendiri dan syariatnya sendiri yang menjelma dalam bentuk pengabdian diri dan ketundukan kepada Allah SWT semata-mata atau dengan perkataan lain menjelma dalamnya pengakuan: bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muharmmad ialah utusan Allah (LA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADUR-RASULULLAH).

Begitulah tumbuhnya Jemaah Islamiyah yang ulung dahulu dan telah dapat membangunkan masyarakat Islam yang pertama dan demikian pulalah kaedahnya pertumbuhan setiap Jemaah Islamiyah di setiap ketika dan tempat dan demikian pulalah tumbuhnya setiap masyarakat muslim bila mana dan di mana sahaja pun.

Sesungguhnya masyarakat Islam itu tumbuh daripada berpindahnya beberapa individu dan perkumpulan manusia dari mengabdikan diri kepada yang lain daripada Allah, baik bersama-sama.dengan Allah atau pun tanpa Allah, kepada mengabdikan diri kepada Allah semata-mata tanpa sebarang kongsi dan sekutu bagi-Nya; kemudian daripada pengakuan dan penegasan perkumpulan ini
hendak menegakkan sistem hidupnya sendiri di atas asas pengabdian itu, ya, ketika itulah baru sempurna lahirnya sesuatu yang baru untuk masyarakat yang baru, sebagai pecahan daripada masyarakat jahiliyah yang telah sedia ada, yang berhadapan dengannya dengan memakai akidah yang baru, sistem hidup yang baru, berdasarkan akidah ini yang menjelma di dalamnya dasar Islam yang pertama dengan dua rangkaiannya iaitu pengakuan bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawa Muhammad itu ialah utusan Allah (LA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADUR-RASULULLAH).

Ada kemungkinan masyarakat jahiliyah itu seluruhnya akan menyertai masyarakat Islam dan boleh jadi juga tidak, seperti juga masyarakat jahiliyah itu boleh berkompromi dengannya seperti mana ia pun boleh memusuhinya, walaupun telah menjadi kebiasaan bahawa masyarakat jahiliyah selalu memerangi masyarakat Islam. Kebiasaan itu berlaku di peringkat pertumbuhannya (iaitu terhadap individu pada pendakwahnya dan juga terhadap perkumpulan dan organisasinya mahu pun terhadap masyarakat itu seluruhnya sesudah masyarakat itu tumbuh). Inilah yang telah berlaku di sepanjang dakwah Islamiyah sejak dari zaman Nabi Nuh hinggalah ke zaman Nabi Muharrmad SAW tanpa kecualinya.

Memanglah masyarakat Islam itu tidak akan tumbuh dan tak akan lancar pertumbuhannya kecuali apabila ianya mempunyai kekuatan yang boleh menghadapi dan melawan cabaran dan tekanan dari masyarakat jahiliyah baik kekuatan itu berupa kekuatan akidah dan keyakinan, kekuatan peribadi dan
pertahanan jiwa, kekuatan daya mengatur dan membina masyarakat dan segala jenis kekuatan yang mampu menghadapi tekanan masyarakat jahiliyah atau mengalahkannya, atau pun sekurang-kurangnya dapat mengimbanginya. 

Tapi apakah dia “masyarakat jahiliyah” itu dan bagaimanakah pula jalan program Islam menghadapinya? Sesungguhnya “masyarakat jahiliyah” itu ialah setiap masyarakat yamg bukan masyarakat Islam! Dan kalau kita hendak membuat definisi atau takrifnya yang tepat maka kita katakan: “bahawa masyarakat jahiliyah itu iatah masyarakat yang tidak tulen pengabdiannya kepada Allah SWT; pengabdian yang menjelma di dalam kepercayaan dan keyakinan di dalam syiar dan lambang peribadatan, juga di dalam peraturan dan undang-undang.”

Dengan definisi dan takrif yang terang dan tepat ini maka termasuklah di dalam golongan “Masyarakat jahiliyah” itu semua bentuk masyarakat yang ada sekarang di permukaan bumi ini.
Termasuk di dalamnya masyarakat KOMUNIS.
Pertama :
Kerana ilhad dan engkarnya akan zat Allah SWT dan kerana ia tidak percaya dan mengakui wujudnya zat Allah SWT sama sekali, juga kerana ia berpandukan “benda” dan “alam”. Pun kerana ia merujuk dan meletakkan wujudnya alam ini kepada “benda” dan “alam semesta”. Juga kerana ia merujukkan aktiviti kehidupan manusia dan sejarahnya kepada ekonomi dan alat produksi semata-mata.
Kedua:
Kerana ia mendirikan suatu sistem pengabdian diri kepada parti, dengan menganggap bahawa pimpinan kolektif itu adalah suatu hakikat sebenarnya yang menguasai parti komunis, dan bahawa pimpinan dan pengabdian ibu bukanlah sama sekali kepunyaan ALLAH. Kemudian segala aspek dan segi yang berkaitan dengan konsep sistem tadi, yang sebenarnya merupakan penghinaan kepada martabat dan kehormatan “manusia” dengan menganggap bahawa “keperluan asasi” bagi manusia itu sama sahaja dengan keperluan asasi bagi haiwan, iaitu makanan, minuman, pakaian, lempat tinggal dan perhubungan jenis (sex) sahaja!

Dengan tidak membenarkannya mendapatkan keperluan-keperluan rohani yang membezakannya dari haiwan. Keperluan rohani itu yang pertamanya ialah iktikad akan kebesaran Tuhan dan kebebasan memilih kepercayaan hidup, juga kebebasan bersuara yang merupakan aspek penting dari sifat “kemanusiaan", yang terganbar di dalam bentuk kebebasan hak milik individu, kebebasan dalam lapangan seni, dan hal-hal mengenai soal individu, dan seterusnya semata-mata menjadi “alat” kerana sebenarnya di dalam konsep kepercayaan sistem komunis adalah menurunkan taraf dan darjat rmanusia menjadi lebih rendah dari haiwan, malah tidak lebih daripada menjadi alat sahaja!

Termasuk juga dalam kategori masyarakat jahiliyah ini ialah masyarakat penyembah berhala yang masih banyak kedapatan di India, Jepun, Filipina dan juga di Afrika kerana:
Pertama :
Konsep dan iktikadnya yang mempertuhankan benda-benda yang lain daripada ALLAH SWT, baik sebagai sekutu Allah atau berdiri sendiri dalam bentuk persembahan lambang-lambang dan syiar-syiar persembahan kepada dewa-dewa, tukang-tukang tilik dan mahaguru-mahaguru dan apa jua selain daripada Allah yang dianggap mempunyai sifat ketuhanan juga termasuk di dalamnya sistem sistem peraturan dan undang-undang yang lain daripada peraturan dan undangundang Allah, sama ada peraturan dan undang-undang itu diambil dari kuil-kuil,pendeta-pendeta, sami-sami, bomoh-bomoh, tukang-tukang tilik dan mahaguru-- mahaguru, atau diambil daripada lembaga-lembaga dan badan-badan perundangan sekular yang mempunyai kuasa perundangan tanpa berpandu kepada syariat Allah dengan pengertian bahawa lembaga-lembaga dan badan-badan itu mempunyai kuasa perundangan tertinggi atas nama rakyat atau atas nama parti atau apa jua nama pun yang demikian justeru kerana kekuasaan dan pemerintahan itu adalah kepunyaan dan hak milik mutlak Allah SWT yang tidak akan boleh didapati melainkan melalui panduan dan jalan yang telah digariskan oleh rasul-rasulNya.

Termasuk dalam kategori masyarakat jahiliyah juga ialah masyarakat Yahudi dan Kristian di seluruh muka bumi ini kerana:
Pertama:
Konsep dan kepercayaan hidupnya yang menyeleweng dan terpesong, yang tidak mentauhidkan Allah SWT dengan sifat-sifat keTuhananNya, malah dijadikan bagi-Nya kongsi-kongsi dan sekutu-sekutu di dalam beragam bentuk kesyirikan, baik yang berbentuk putera Suci (Tuhan) atau dalam bentuk tiga-tuhan (trinity) atau menggambarkan Allah SWT bukan dengan gambaran yang sebenar, dan menggambarkan hubungan sifat-sifat Allah berlainan daripada yang sebenarnya.

Firman Allah :
وَقَاَلتِ اْليَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ الّلهِ وََقاَلتْ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ الّلهِ َذلِكَ َقوُْلهُم بِأَفْوَاهِهِمْ
يُضَاهِؤُو َ ن َقوْ َ ل الَّذِينَ َ كَفرُوْا مِن َقبْلُ قَاتََلهُمُ اللّهُ َأنَّى يُؤَْف ُ كو َ ن
Maksudnya: “Dan berkatalah orang Yahudi: “Uzair itu anak Allah” dan berkatalah orang-orang Nasrani: “Isa [Al-Masih] itu anak Allah.” Yang demikian itu adalah omongan mereka dengan mulut mulut mereka, menyerupai perkataanperkataan orang kafir yang dahulu; mudah-mudahan Allah binasakan mereka! Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan.”

(At-Taubah: 30)
لََّقدْ َ كَفرَ الَّذِينَ َقاُلوْا إِنَّ الّلهَ َثالِثُ َث َ لاَثةٍ وَمَا مِنْ إَِلهٍ إِلاَّ إَِلهٌ وَاحِدٌ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوْا عَمَّا
يَقُوُلو َ ن َليَمَسَّنَّ الَّذِينَ َ كَفرُوْا مِنْهُمْ عَ َ ذابٌ َألِيمٌ
Maksudnya: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “bahawa Allah itu ialah yang ketiga daripada tiga [Tuhan] pada hal tidak ada tuhan, melainkan Tuhan Yang Tunggal; dan jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, nescaya akan mengenai orang-orang kafir dari mereka itu azab yang pedih.”

(Al-Ma'idah: 73)
Juga firman Allah:
وَقَاَلتِ اْليَهُودُ يَدُ الّلهِ مَغْلُوَلٌة ُ غلَّتْ َأيْدِيهِمْ وَُلعِنُوْا بِمَا َقاُلوْا بَ ْ ل يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ َ كيْفَ
يَشَاء
Maksudnya: “Dan orang-orang Yahudi itu berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, padahal tangan-tangan merekalah yang terbelenggu, dan dilaknatlah mereka dengan [sebab] apa yang telah mereka katakan itu, bahkan kedua tangan Allah itu terbuka. Ia membelanjakan sebagaimana yang ia suka.”

(Al-Maidah: 64)
serta firman Allah SWT:
وَقَاَلتِ اْليَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ َأبْنَاء الّلهِ وََأحِبَّاؤُهُ ُق ْ ل َفلِمَ يُعَذِّبُ ُ كم بِذُنُوبِ ُ كم بَ ْ ل َأنتُم بَشَرٌ
مِّمَّنْ خََلقَ
Maksudnya: “Dan telah berkata orang-orang Yahudi dan Nasrani: “Kami ini anak-anak Allah dan kekasih-kekasihNya. “Tanyakanlah mereka: “Kalau begitu mengapakah Allah itu menyeksa kami dengan sebab dosa-dosa kamu? Bahkan kamu itu manusia dari makhluk yang Ia jadikan.”

(Al-Maidah: 18)
Masyarakat Yahudi dan Kristian masuk di dalam kategori masyarakat jahiliyah dengan sebab bentuk, syiar dan juga lambang-lambang keagamaan mereka yang berbentuk peribadatan, istiadat-istiadat dan upacara-upacara rasminya yang tercetus daripada konsep dan kepercayaan yang menyeleweng dan sesat serta menyesatkan. Kemudian lagi masyarakat itu menjadi masyarakat jahiliyah kerana sistem hidup, peraturan dan undang-undangnya yang tidak berdasar kepada pengabdian diri kepada Allah SWT mengakui hak memerintah dan berkuasa hanya kepada Allah SWT dan tidak mengambil kekuasaan daripada syariat dan panduan Ilahi; malah mereka dirikan badan-badan dan lembaga yang terdiri daripada manusia yang diberi hak kekuasaan tertinggi, sedang hak kekuasaan tertinggi itu adalah kepunyaan mutlak Allah SWT dan sejak dahulu lagi Allah SWT telah cap mereka kufur dan syirik kerana mereka telah memberikan hak itu kepada para padri, pendeta dan rahib agama mereka untuk membuat peraturan dan undang undang dari pihak diri mereka (padri pendeta dan rahib) itu sendiri, peraturan dan undang-undang yang mesti diterima dan dipatuhi oleh para penganut dan pengikut agama itu.

Firman Allah SWT:
اتَّخَ ُ ذوْا َأحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ َأرْبَابًا مِّن دُونِ الّلهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا ُأمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا
إَِلهًا وَاحِدًا لاَّ إَِلهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِ ُ كو َ ن
Maksudnya: “Mereka itu telah menjadikan padri-padri, pendeta-pendeta dan rahib-rahib agama mereka sebagai Tuhan-tuhan selain daripada Allah dan juga mereka menjadikan Al-Masih putera Maryam itu sebagai Tuhan sedangkan mereka tidak diperintah melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Satu. Tuhan Yang tiada lagi Tuhan selain daripada-Nya. Maha sucilah la dari apa
yang mereka sekutukan itu.”

(Baraah: 31)
Sedangkan orang Yahudi dan Nasrani tidak beriktikad dan menganggap para pendeta dan rahib agama mereka itu sebagai Tuhan yang mereka sembah, juga mereka tidak melakukan ibadat kepada para pendeta dan rahib itu, mereka hanya sekadar mengakui bahawa pendeta-pendeta dan rahib-rahib itu mempunyai hak dan kuasa dalam soal pemerintahan dan kekuasaan negara, dan mereka patuh sahaja menerima apa yang diputuskan oleh para pendeta dan rahib itu, walaupun dalam perkara yang tidak diizinkan oleh Allah sama sekali. Oleh sebab itulah mereka itu layak disifatkan sebagai syirik dan kufur.

Dan akhir sekali termasuklah juga di dalam kategori masyarakat jahiliyah itu masyarakat-masyarakat yang menganggap bahawa mereka kononnya “Masyarakat Islam”.

Masyarakat-masyarakat ini masuk ke dalam lingkungan ini tidak kerana ia percaya dan beriktikad seorang yang lain daripada Allah sebagai mnempunyai sifat ketuhanan; bukan pula kerana ia melakukan sebarang jenis ibadat kepada yang lain daripada Allah; tapi ia termasuk di dalam kategori masyarakat jahiliyah kerana ia tidak menumpu dan membulatkan pengabdian dirinya kepada Allah SWT di dalam sistem hidupnya; dan ia - walaupun tidak beriktikad ketuhanan sesuatu apa pun yang lain daripada Allah - tetapi ia telah memberikan salah satu sifat paling istimewa kepunyaan Allah SWT kepada yang lain daripadanya-Nya, lalu ia rela tunduk (dan patuh kepada keputusan dan hukuman serta pemerintahan yang lain daripada Allah; dan ia menerima segala peraturan dan undang-undangnya, nilai nilai dan pertimbangannya, adat resam dan kebudayaannya dalam hampir seluruh asas dan dasar kehidupannya.

Sedangkan Allah SWT telah pun berfirman mengenai sifat-sifat orang yang memerintah seperti itu:
وَمَن لَّمْ يَحْ ُ كم بِمَا َأنزَ َ ل اللّهُ َفأُوَْلئِكَ هُمُ الْ َ كافِرُو َ ن
Maksudnya: “Kerana barang siapa sahaja yang tidak menghukum dan memerintah dengan hukum [apa] yang diturunkan oleh Allah, maka adalah mereka itu orang-orang yang kafir.”

(Al Maidah: 44)
Juga Allah SWT telah berfirman, mengenai sifat orang-orang yang diperintah (rakyat jelata).
َأَلمْ تَرَ إَِلى الَّذِينَ يَزْعُمُو َ ن َأنَّهُمْ آمَنُوْا بِمَا ُأنزِ َ ل إَِليْكَ وَمَا ُأنزِ َ ل مِن َقبْلِكَ يُرِيدُو َ ن َأن
يَتَحَاكَمُوْا إَِلى الطَّا ُ غوتِ وََقدْ ُأمِرُوْا َأن يَ ْ كُفرُوْا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَا ُ ن َأن يُضِلَّهُمْ ضَ َ لا ً لا بَعِيدًا
60 ) وَإَِذا قِي َ ل َلهُمْ تَعَاَلوْْا إَِلى مَا َأنزَ َ ل اللّهُ وَإَِلى الرَّسُولِ رََأيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّو َ ن عَنكَ )
صُدُودًا ( 61 ) َف َ كيْفَ إَِذا َأصَابَتْهُم مُّصِيبٌَة بِمَا َقدَّمَتْ َأيْدِيهِمْ ُثمَّ جَآؤُوكَ يَحْلُِفو َ ن بِالّلهِ إِ ْ ن
َأرَدْنَا إِلاَّ إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا ( 62 ) ُأوَلئِكَ الَّذِينَ يَعَْلمُ اللّهُ مَا فِي ُقُلوبِهِمْ َفَأعْرِضْ عَنْهُمْ
وَعِ ْ ظهُمْ وَُقل لَّهُمْ فِي َأنفُسِهِمْ َقوْ ً لا بَلِيغًا ( 63 ) وَمَا َأرْسَْلنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ الّلهِ
وََلوْ َأنَّهُمْ إِذ ظََّلمُوْا َأنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ َفاسْتَغَْفرُوْا الّلهَ وَاسْتَغَْفرَ َلهُمُ الرَّسُو ُ ل َلوَجَدُوْا الّلهَ
تَوَّابًا رَّحِيمًا ( 64 ) َف َ لا وَرَبِّكَ َ لا يُؤْمِنُو َ ن حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ُثمَّ َ لا يَجِدُوْا فِي
( َأنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا َقضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيمًا ( 65
Maksudnya: “Tidakkah engkau fikirkan [kesesatan] orang-orang yang mendakwa bahawasanya mereka beriman kepada [AI-Quran] yang diturunkan kepadamu dan kepada kitab yang diturunkan sebelummu, pada hal mereka suka hendak berhakim kepada taghut [syaitan]? Sedangkan mereka telah diperintahkan supaya kufur [engkar] kepadanya, tetapi syaitan ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan yang lauh. Dan apabila katakan kepada mereka: “Marilah [berhakim] kepada hukum Al-Quran yang diturunkan oleh Allah dan kepada [hukum] Rasul Allah”, engkau dapat lihat orang-orang munafiq itu berpaling darimu dengan sungguh-sungguh. Tetapi bagaimana halnya apabila satu bahaya mengenai mereka dengan sebab apa yang diperbuat oleh tangan-tangan mereka, kemudian mereka datang kepadamu bersumpah dengan nama Allah: “Kami tidak maksudkan melainkan kebaikan dan perdamaian.” Mereka itu ialah orang yang Allah telah tahu apa yang ada di dalam hati mereka. Lantaran itu hendaklah engkau berpaling dari mereka tetapi nasihatilah mereka dan katakan kepada mereka perkataan yang memberi kesan pada mengubah apa-apa ada di hati-hati mereka. Dan Kami tidak utus seorang pun Rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah; dan jika mereka, sesudah menganiayai diri mereka sendiri, datang kepadamu, lalu mereka minta ampun kepada Allah, dan Rasul juga mintakan ampun bagi mereka, nescaya mereka dapati Allah itu Penerima taubat,Penyayang. Tetapi tidak! Demi Tuhanmu mereka tidak disifat beriman hingga mereka jadikanmu sebagai hakim dalam apa-apa yang mereka berselisihan di antara mereka, kemudian mereka tidak merasa sesuatu keberatan di hati-hati mereka tentang apa yang engkau telah putuskan serta mereka menerima keputusan dengan sepenuh-penuhnya.”
(An Nisa' : 60-65)
Maka sebagaimana Allah SWT telah mensifatkan orang-orang Yahudi dan Nasrani tadi dengan sifat syirik dan kufur, serta terpesong juga tersasul dari pengabdian diri kepada Allah, kerana mereka menjadikan padri-padri, pendeta pendeta dan rahib-rahib mereka, sebagai tuhan-tuhan selain daripada ALLAH maka demikian jugalah halnya dengan orang-orang yang menamakan diri mereka sebagai ORANG-ORANG ISLAM kepada pengikut-pengikut mereka. Dan Allah anggap orang Nasrani itu syirik kerana menganggap Isa putera Maryam sebagai Tuhan yang mereka sembah dan mereka puja; itu sudah bererti keluar dari sifat pengabdian kepada Allah dan juga dari pengakuan bahawa: tiada Tuhan melainkan Allah. Dan ini (orang Islam) sama sahaja dengan mereka (Yahudi dan Nasrani), iaitu mengeluarkan diri daripada pengabdian kepada Allah sahaja dan dengan demikian keluar daripada agama ini (Islam) dan keluar daripada pengakuan: tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu utusan Allah (LA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADUR-RASULULLAH).

Dan masyarakat itu, setengahnya ada pula yang mengaku berterus terang tentang sifat sekularnya dan menganggap bahawa perkara-perkara duniawi itu di atas landasan “sains” semata-mata, dengan anggapan bahawa sains (benda) itu bertentangan dengan benda-benda ghaib, sedangkan sangkaan itu adalah satu sangkaan karut yang hanya ada pada orang yang jahil sahaja. Manakala sebahagian lagi masyarakat itu ada yang mengakui dan mematuhi pemerintahan praktikal yang lain daripada Allah yang dapat membuat undang-undang mengikut kehendaknya sendiri, dan dirinya sendiri lalu mendakwa bahawa “inilah dia pemerintahan Tuhan”; sedangkan itu semua adalah sama-sama tidak berdiri di atas pengabdian diri kepada Allah SWT.

Jikalau ini telah temyata, maka sikap Islam mengenai masyarakat-masyarakat jahiliyah itu semuanya adalah dapat ditegaskan melalui ungkap kata yang satu sahaja iaitu: "Bahawa Islam menolak dan tidak mengakui ‘keislaman’ masyarakat sepenuhnya”; dan menolak sahnya masyarakat itu mengikut nilai Islam.

Sesungguhnya Islam itu tidak memandang kepada simbol dan kepada judul yang ditonjolkan oleh masyarakat itu, kerana semuanya itu berpadu di dalam suatu hakikat sahaja, iaitu bahawa kehidupan di dalam masyarakat itu tidak tegak di atas dasar pengabdian diri sepenuhnya kepada Allah dan semuanya itu bertemu di dalam suatu hakikat yang menyatukan semuanya, iaitu hakikat Jahiliyah.

Dan ini membawa kita kepada persoalan yang penghabisan, iaitu jalan program Islam dalam menghadapi realiti umat manusia seluruhnya hari ini, besok dan seterusnya hingga ke akhir zaman dan di sinilah amat berguna sekali huraian dan penjelasan kita mengenai “bentuk masyarakat Islam” yang kita huraikan tadi tentang tabiat masyarakat Islam itu yang dibangunkan di atas asas pengabdian diri sepenuhnya kepada Allah SWT di dalam semua urusan.

Sesungguhnya penegasan tabiat dan sifat ini akan dapat memberikan jawapan yang tepat mengenai pertanyaan berikut: Apakah asal usul yang menjadi sandaran kepada hidup manusia? Adakah asal dan di atas apa hidup manusia itu ditegakkan? Adakah asal agama Allah dan programnya untuk dihayati? Atau adakah asal itu bersandar kepada realiti hidup manusia itu sendiri dalam bentuk yang bagaimanapun?

Sebenamya Islam telah pun memberikan jawapan yang tegas dan nyata kepada pertanyaan-pertanyaan di atas itu, tanpa keraguan dan dalih sesaat jua pun, iaitu bahawa asal usul segala sesuatu yang wajib dirujukkan segala sesuatu dan wajib dipercayai ialah: agama Allah dan programnya untuk dihayati, iaitu pengakuan TIADA TUHAN MELAINKAN ALLAH DAN MUHAMMAD ITU UTUSAN ALLAH (LA ILLAHA ILLALLAH MUHAMMADUR-RASULULLAH); itulah rukun utama dalam Islam, yang tidak dapat ditegak dan ditunaikan semua rukun-rukun lain kecuali di atas usul ini dan bahawasanya pengabdian diri kepada Allah serta kepatuhan menerimanya dalam bentuk dan cara mengambilnya daripada Rasulullah SAW yang juga tidak akan sah kecuali apabila benar-benar diakui asal usul ini, disertai dengan kepatuhan sungguth-sungguh dan tegas, tanpa dalih apa pun.

Firman Allah:
وَمَا آتَا ُ كمُ الرَّسُو ُ ل فَخُذُوهُ وَمَا نَهَا ُ كمْ عَنْهُ َفانتَهُوا
Maksudnya: “Dan apa-apa yang diberi oleh Rasul kepada kamu, maka ambillah dengan sepenuhnya, dan apa-apa yang ia larang kamu, maka jauhilah seluruhnya.” (Al Hasyr : 7)

Kemudian Islam menanyakan pula:
Maksudnya: “Adakah kamu yang lebih mengetahui. Ataukah Allah yang lebih mengetahui?” dan ia menjawab pula: Maksudnya: “Allah itu Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak tahu.” dan:
Maksudnya: “Dan kamu tidak diberikan ilmu pengetahuan itu melainkan sedikit sahaja.”

Allah Yang Maha Mengetahui, juga Yang Menjadikan segala sesuatu dan memberi rezeki mereka; ialah Tuhan Yang Memerintah dan Menentukan dan agama-Nya yang menjadi panduan untuk dihayati adalah asal usul yang, menjadi tempat kembalinya segala sesuatu mengenai kehidupan. Adapun situasi kehidupan manusia, teori-teori dan mazhab-mazhab pemikiran mereka boleh jadi menyeleweng dan rosak kerana ia tegak semata-mata di alas dasar ilmu pengetahuan manusia yang dangkal dan cetek seperti yang disifatkan oleh Al- Quran sebagai dikurniakan dengan ilmu pengetahuan yang sedikit sahaja. 

Agama Allah itu bukanlah sesuatu yang kabur dan programnya untuk dihayati bukanlah sesuatu yang pragmatis. Ia sangat tegas dengan rangkaian yang kedua MUHAMMADUR-RASULULLAH (Muhammad itu utusan Allah) ia adalah terlingkung di dalam apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW dengan nas (textnya) di dalam perkara-perkara pokok dan dasar. Sekiranya di sana terdapat nas maka nas itulah yang menjadi hukum dan keputusan dan tidak ada jalan untuk ijtihad; tetapi kalau di sana tiada nas, maka tibalah peranan dan giliran ijtihad, menurut patokan dan dasar-dasar yang telah ditetapkan di dalam panduan Allah SWT sendiri bukan menurut kecenderungan hawa nafsu dan kemahuan manusia.

Firman Allah :
َفإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إَِلى الّلهِ وَالرَّسُولِ
Maksudnya: “Maka sekiranya kamu berbantahan di dalam satu perkara, hendaklah kamu kembalikan dia kepada Allah dan Rasul.” (An Nisa': 59)

Dan dasar-dasar yang telah ditetapkan untuk diijtihadkan dan diistinbat juga
telah digariskan dengan terang dan nyata dan malah dikenal serta diketahui umum,
bukan sesuatu yang kabur dan pragmatis tiada seorang pun yang berhak
mengatakan bahawa sesuatu yang dia putuskan itu “ini ketetapan Allah”, yang
dilakukannya melainkan sehingga hukum dan keputusan itu sesuai dan secocok Maksudnya: “Allah itu Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak tahu.”
dan:
Maksudnya: “Dan kamu tidak diberikan ilmu pengetahuan itu melainkan sedikit
sahaja.”
Allah Yang Maha Mengetahui, juga Yang Menjadikan segala sesuatu dan
memberi rezeki mereka; ialah Tuhan Yang Memerintah dan Menentukan dan
agama-Nya yang menjadi panduan untuk dihayati adalah asal usul yang, menjadi
tempat kembalinya segala sesuatu mengenai kehidupan. Adapun situasi kehidupan
manusia, teori-teori dan mazhab-mazhab pemikiran mereka boleh jadi
menyeleweng dan rosak kerana ia tegak semata-mata di alas dasar ilmu
pengetahuan manusia yang dangkal dan cetek seperti yang disifatkan oleh Al-
Quran sebagai dikurniakan dengan ilmu pengetahuan yang sedikit sahaja.
Agama Allah itu bukanlah sesuatu yang kabur dan programnya untuk
dihayati bukanlah sesuatu yang pragmatis. Ia sangat tegas dengan rangkaian yang
kedua MUHAMMADUR-RASULULLAH (Muhammad itu utusan Allah) ia adalah
terlingkung di dalam apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW dengan nas
(textnya) di dalam perkara-perkara pokok dan dasar. Sekiranya di sana terdapat nas
maka nas itulah yang menjadi hukum dan keputusan dan tidak ada jalan untuk
ijtihad; tetapi kalau di sana tiada nas, maka tibalah peranan dan giliran ijtihad,
menurut patokan dan dasar-dasar yang telah ditetapkan di dalam panduan Allah
SWT sendiri bukan menurut kecenderungan hawa nafsu dan kemahuan manusia.
Firman Allah :
َفإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إَِلى الّلهِ وَالرَّسُولِ
Maksudnya: “Maka sekiranya kamu berbantahan di dalam satu perkara,
hendaklah kamu kembalikan dia kepada Allah dan Rasul.”
(An Nisa': 59)
Dan dasar-dasar yang telah ditetapkan untuk diijtihadkan dan diistinbat juga
telah digariskan dengan terang dan nyata dan malah dikenal serta diketahui umum,
bukan sesuatu yang kabur dan pragmatis tiada seorang pun yang berhak
mengatakan bahawa sesuatu yang dia putuskan itu “ini ketetapan Allah”, yang
dilakukannya melainkan sehingga hukum dan keputusan itu sesuai dan secocok Maksudnya: “Allah itu Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak tahu.”
dan:
Maksudnya: “Dan kamu tidak diberikan ilmu pengetahuan itu melainkan sedikit
sahaja.”
Allah Yang Maha Mengetahui, juga Yang Menjadikan segala sesuatu dan
memberi rezeki mereka; ialah Tuhan Yang Memerintah dan Menentukan dan
agama-Nya yang menjadi panduan untuk dihayati adalah asal usul yang, menjadi
tempat kembalinya segala sesuatu mengenai kehidupan. Adapun situasi kehidupan
manusia, teori-teori dan mazhab-mazhab pemikiran mereka boleh jadi
menyeleweng dan rosak kerana ia tegak semata-mata di alas dasar ilmu
pengetahuan manusia yang dangkal dan cetek seperti yang disifatkan oleh Al-
Quran sebagai dikurniakan dengan ilmu pengetahuan yang sedikit sahaja.
Agama Allah itu bukanlah sesuatu yang kabur dan programnya untuk
dihayati bukanlah sesuatu yang pragmatis. Ia sangat tegas dengan rangkaian yang
kedua MUHAMMADUR-RASULULLAH (Muhammad itu utusan Allah) ia adalah
terlingkung di dalam apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW dengan nas
(textnya) di dalam perkara-perkara pokok dan dasar. Sekiranya di sana terdapat nas
maka nas itulah yang menjadi hukum dan keputusan dan tidak ada jalan untuk
ijtihad; tetapi kalau di sana tiada nas, maka tibalah peranan dan giliran ijtihad,
menurut patokan dan dasar-dasar yang telah ditetapkan di dalam panduan Allah
SWT sendiri bukan menurut kecenderungan hawa nafsu dan kemahuan manusia.
Firman Allah :
َفإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إَِلى الّلهِ وَالرَّسُولِ
Maksudnya: “Maka sekiranya kamu berbantahan di dalam satu perkara,
hendaklah kamu kembalikan dia kepada Allah dan Rasul.”
(An Nisa': 59)
Dan dasar-dasar yang telah ditetapkan untuk diijtihadkan dan diistinbat juga
telah digariskan dengan terang dan nyata dan malah dikenal serta diketahui umum,
bukan sesuatu yang kabur dan pragmatis tiada seorang pun yang berhak
mengatakan bahawa sesuatu yang dia putuskan itu “ini ketetapan Allah”, yang
dilakukannya melainkan sehingga hukum dan keputusan itu sesuai dan secocok dengan apa yang digaris oleh Allah, dan bahawa sumber kekuasaan dan keputusan
itu ialah Allah SWT, bukan RAKYAT dan juga bukan PARTI, pun juga bukan
sebarang manusia, segala apa jua pun hendaklah dirujukkan kepada kitab Allah dan
Sunnah Rasul-Nya untuk mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah SWT; dan
ini tidak akan didapati oleh setiap orang pun yang ingin mendakwa dirinya
mempunyai sebarang kuasa dengan menggunakan nama Allah, seperti yang
terkenal di Eropah pada suatu ketika yang lampau dengan nama TEOKRASI atau
PEMERINTAHAN SUCI dan hal-hal seperti ini tidak ada sedikit pun di dalam
Islam, dan tiada seorang pun yang berhak atas nama Allah melainkan RasulNya
SAW dan hanya di sana ada nas-nas tertentu yang menentukan apa yang diperintah
oleh Allah SWT.
Sesungguhnya perkataan “agama untuk realiti” ( الدين الوقع ) telah disalahgunakan
dan disalah-ertikan. Memang benarlah bahawa agama itu untuk realiti,
tetapi realiti yang bagaimanakah?
Yang sebenarnya realiti yang boleh diterima itu ialah realiti yang telah
ditumbuhkan oleh agama itu sendiri, mengikut panduan dan jalannya, selaras
dengan fitrah manusia yang semula jadi, yang melaksanakan keperluan-keperluan
“manusia” yang sebenarnya. Keperluan-keperluan yang telah diputuskan oleh Allah
yang menciptakannya kerana Allah Maha Mengetahui tentang apa yang
dijadikannya.
Firman Allah:
َأَلا يَعَْلمُ مَنْ خََلقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
Maksudnya: “Tidakkah [Tuhan] yang menjadikan itu tahu, sedangkan Ialah yang
Halus, Yang Dasar.”
(Al Mulk: 14)
Dan agama itu tidak menghadapi apa jua realiti untuk menerimanya begitu
sahaja dan mencari sandaran daripada hukum-hukumnya sendiri, dan untuk
mencari sandaran daripada hukum syarak untuk dijadikan sebagai ungkapan kata
yang dipinjam! Tetapi agama itu menghadapi realiti untuk membuat pertimbangan
sesuai dengan neracanya. Ia menerima apa yang diterimanya dan memansukh apa
yang dimansukhkannya; dan ia akan mengadakan suatu realiti yang lain kalau
didapatinya realiti yang sedang wujud itu tidak sesuai. Realiti yang dibikin oleh
agama itulah realiti yang sebenarnya. Inilah pengertian yang sebenarnya bahawa
Islam itu agama untuk realiti; atau itulah yang sepatutnya dimengerti benar-benar.
Mungkin di sini timbul satu soalan pula: “Bukankah muslihat dan
kepentingan umat manusia itu yang mesti membentuk realiti untuk mereka?”
Dalam hal ini perlu kita kembali kepada pokok pangkal persoalan dan perlu
kita kembali kepada pertanyaan yang dibuat dan dijawab sendiri oleh Islam:
Adakah. kamu yang lebih mengerti, ataukah Allah yang Lebih Mengetahui?
dan:
Dan Allahlah Yang Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak tahu.
Sesungguhnya muslihat dan kepentingan umat manusia itu sudah pun
tercakup di dalam agama dan peraturan Allah, seperti yang diturunkan Allah, dan
seperti yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Sekiranya ternampak oleh manusia
pada suatu ketika bahawa muslihat mereka berlainan dengan apa yang disyariatkan
oleh Allah, maka jelaskan bahawa manusia itu sesat dan tersasul kerana
beranggapan seperti itu.
Allah SWT telah berfirman:
إِ ْ ن هِيَ إِلَّا َأسْمَاء سَمَّيْتُمُوهَا َأنتُمْ وَآبَاؤُ ُ كم مَّا َأنزَ َ ل اللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ إِن يَتَّبِعُو َ ن إِلَّا
الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنُفسُ وََلَقدْ جَاءهُم مِّن رَّبِّهِمُ اْلهُدَى ( 23 ) َأمْ لِْلإِنسَانِ مَا تَمَنَّى ( 24 ) َفلِلَّهِ
( الْآخِرَةُ وَاْلُأوَلى ( 25
Maksudnya: “Mereka hanya menurut sangkaan dan mengikut apa yang
diinginkan oleh hawa nafsu mereka, pada hal sesungguhnya telah datang kepada
mereka petunjuk dari Tuhan mereka. Atau apakah manusia itu akan mendapat
apa-apa yang ia mahu. Maka kepunyaan Allahlah akhirat dan dunia.”
(an-Najm: 23-25)
Dan kafirlah sesiapa jua yang mendakwa bahawa muslihatnya berlawanan
dengan apa yang telah disyariatkan deh Allah SWT, dan orang seperti itu tidak
kekal di dalam Islam walau sesaat pun.
Share:

TRENDING TOPICS

featured video

Unordered List

Definition List